Mengapa Kita Membuat Kesalahan Karir?


20150120_231910

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Awalnya pertanyaan ini muncul kala saya menemukan buku ini bersama teman di sebuah toko buku di Mall di München (lihat gambar). Di buku tersebut saya jadi tertarik ingin tahu mengapa selalu membuat kesalahan karir pekerjaan. Kurang lebih demikian jika diterjemahkan dari bahasa Jerman, Warum immer die Falschen Karriere machen?

Sampai sekarang buku itu tidak selesai terbaca karena bahasa Jerman saya masih terbata-bata. Capek juga bolak balik lihat kamus. Baru-baru ini Suami lihat dan baca buku ini. Sudah hampir selesai dibaca tetapi dia tidak bisa menceritakan kembali kepada saya dengan baik. Intinya, saya disuruh baca sendiri. Hadeh!!!

Nah, sewaktu wawancara dengan Profesor di Uni saat melamar studi lanjutan, saya mendapatkan pertanyaan yang berkaitan dengan karir pekerjaan. “Anda jurusan Psikologi, mengapa anda melanjutkan pendidikan di bidang komunikasi?” Lalu saya jawab bla bla bla.

Eh si Profesor melanjutkan lagi pertanyaannya, “Jika memang pekerjaan anda selama ini di bidang komunikasi, mengapa anda bekerja di bidang komunikasi padahal anda memiliki latar belakang pendidikan psikologi?”

Walah, ternyata pertanyaan demikan juga kerap saya dapatkan saat wawancara kerja. Lantas, apakah saya membuat kesalahan karir pekerjaan? Saya pikir saya tidak melakukan kesalahan karir. Saya menyukai karir saya. Saya punya gairah (passion) dan berdedikasi penuh menyelesaikan tantangan kerja. Saya telah berani mengambil tantangan, bahkan dalam kondisi terpuruk sekali pun dalam karir.

Mungkin anda juga pernah mendapatkan pertanyaan serupa. Atau anda secara pribadi merefleksikan diri, apakah anda telah membuat kesalahan dalam pekerjaan?

Saya memang belum berhasil membaca buku berbahasa Jerman tersebut. Tetapi saya coba membuat tulisan berdasarkan jurnal psikologi dan beberapa wawancara dengan mereka yang mengeluhkan hal serupa. Faktor internal dan eksternal ternyata menentukan alasan di balik kesalahan membuat karir pekerjan, seperti dikutip di bawah ini:

1. Takut menghadapi risiko dan perubahan
Siap atau tidak kenyataannya tak ada orang yang pernah siap menghadapi perubahan, termasuk perubahan pekerjaan. Anda dipromosikan atau anda dimutasi? Siapkah kita memenuhi permintaan bos.Siapkah kita untuk keluar dari pekerjaan dan mencari lowongan kerja baru yang kita inginkan? Siapkah kita bila kita mulai menekuni bidang usaha yang menjadi minat kita. Kecenderungan kita tak berani ambil risiko karena merasa sudah nyaman dan aman di posisi kerja kita. Ada pula yang tak berani ambil risiko karena khawatir perubahan karir belum tentu mudah dijalani. Istilahnya, buat apa coba-coba kalau soal karir. Bila gagal dan tidak kompeten maka kita akan lebih terperosok lagi. Ada pula yang berpikir karir adalah soal makan atau tidak makan. Intinya, perubahan dalam karir bukan hal yang mudah buat dijalani.

2. Rendahnya bimbingan (role model) dari orangtua dalam penentuan karir
Percaya atau tidak sejak kecil kita sudah ditanyakan cita-cita jika sudah dewasa. Sebenarnya pertanyaan tersebut membantu anak untuk menentukan arah karirnya kelak. Pertanyaannya, apakah orangtua sudah cukup berhasil mengarahkan anaknya. Belum tentu. Kadang keinginan orangtua bisa jadi bertolak belakang dengan keinginan anak dalam penentuan karir. Akibatnya anak menjadi bimbang dan ‘galau’ dalam memutuskan. Sejak anak-anak, orangtua sudah mengarahkan pada bakat dan minat anak semisal anak diberi peran dan tanggung jawab. Apakah anak punya jiwa kepemimpinan untuk mengatur adik-adiknya? Apakah anak sibuk dengan dunia otomotif? Apakah anak suka dengan segala hal yang menyangkut mode dan gaya berpakaian? Apakah anak senang bila diajak ke rumah sakit dan punya jiwa menolong orang sakit? Dan sebagainya. Orangtua sudah mengenali kira-kira kemana orientasi anak kelak dalam karir. Persoalannya, orangtua masih sibuk dengan karir tanpa melibatkan anak, anak dianggap masih kecil dan belum mengerti. Padahal sedari kecil ajari anak tentang karir orangtua dan harapan orangtua kepadanya. Anak bisa melihat keberhasilan orangtua yang mungkin bisa menjadi contoh kelak bagi masa depannya.

3. Tidak adanya bimbingan psikologis dalam penentuan bakat minat saat penentuan karir
Apakah setiap sekolah sudah melakukan bimbingan psikologis menyangkut penentuan bakat dan minat? Kebanyakan mereka menuntut agar lebih pandai dalam hal akademis, padahal dunia nyata ada juga orang yang berhasil dan bertahan hidup berdasarkan usaha hobi dan ketrampilan, tak melulu soal akademis. Adakah tes psikologis yang menentukan bakat dan minat siswa? Adakah konseling yang dilakukan guru untuk membantu mengarahkan anak? Apakah anak yang sudah menginjak remaja paham dan tahu bakat dan minatnya? Apakah mereka tahu apa langkah selanjutnya (rencana) untuk meraih masa depannya? Disini sekolah menjadi landasan untuk membantu anak menentukan karir masa depannya.

4. Pemikiran yang salah dan berlebihan
Kita berpikir dunia bisa bersikap adil memperlakukan kita dalam pekerjaan, misalnya berpikir Bos akan mempromosikan kita padahal untuk dapat promosi kita harus bersaing dengan ratusan staf lainnya. Kita berpikir bahwa tuntutan ekonomi memaksa bekerja sehingga suatu saat kita akan menyukai pekerjaan kita, kenyataannya tidak selalu demikian. Dapat dipastikan anda hanya mengeluh dan mengeluh. Anda iri kepada teman yang berhasil dengan karirnya tetapi anda sendiri tak berani mengambil pilihan untuk karir anda. Anda berpikir sudah terlanjur bekerja dan menunggu keajaiban datang merubah nasib anda. Anda jadi terjebak dalam karir pekerjaan yang menurut anda salah. Atau, anda berpikir tidak ada lagi yang mungkin mempekerjakan anda karena usia atau pengalaman kerja padahal ada segudang kesempatan menanti anda. Bukankah dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Anda berharap memenangkan lotre dan keluar dari pekerjaan. Kemudian anda mengeluh setiap hari dan tak ada gairah untuk bekerja setiap hari. Pemikiran yang salah dan berlebihan tentu akan menghambat untuk menentukan karir pekerjaan.

Jika membaca profil orang yang sukses dengan bisnisnya, mereka mampu menemukan karir yang berawal dari keberanian untuk ambil risiko dan segera keluar dari “perangkap”. Mereka berani untuk gagal dan siap menghadapi perubahan. Jadi tak usah banyak mikir risiko berhasil atau gagal, tetapi segera putuskan agar tidak terjebak pada kesalahan langkah karir anda. Bagaimana pun terkadang kita berpikir menyerah saja pada karir pekerjaan meski kita tak merasa cocok dengan pekerjaan.

If you do your job properly, you will succeed without a doubt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s