5 Tips Ajari Anak Gemar Menulis


blog4
(Kebiasaan menulis berawal dari kebiasaan membaca. Sumber foto: Dokumen pribadi)

Menulis itu mengasyikkan. Menulis itu menyenangkan. Begitulah yang tertanam dalam pengalaman hidup saya sejak masih anak-anak. Apa pun lebih mudah diingat jika saya menuliskannya dalam secarik kertas. Kebiasaan menulis memudahkan saya untuk melakukan berbagai tugas.

Bila anda adalah orangtua atau guru, saya ingin berbagi pengalaman agar anak gemar menulis sejak dini. Ini tipsnya:

1. Sediakan Buku diary
Kebiasaan menulis bermula saat saya lancar menulis di bangku sekolah dasar. Saya sering melihat ayah saya menulis di buku catatannya. Rupanya ayah saya gemar menulis poin-poin yang terjadi dan dilakukannya. Karena tertarik dengan buku catatan ayah saya, beliau pun memberi hadiah buku diary. Saya pun mulai suka menuliskan apa pun yang saya alami di buku tersebut. Wah, tak perlu mahal untuk sebuah buku harian, akhirnya dengan buku tulis biasa, saya diminta membuatnya lebih kreatif untuk dijadikan buku harian. Saya mencatat apa saja yang saya lakukan sepanjang hari di sekolah dan di rumah. Kadang ayah saya mengecek tulisan saya. Saya suka jika ayah memberi komentar.

Nah berdasarkan pengalaman ini, saya yakin setiap anak suka mengekspresikan apa saja yang mereka alami setiap hari. Suatu kali saya praktikkan pada suatu sekolah dasar agar selama seminggu menuliskan pengalamannya di sekolah. Hasilnya? Semua anak menuliskannya dengan baik. Artinya, tidak ada anak yang tidak suka menulis. Pengalaman menulis sebagai langkah awal untuk mendorong anak gemar menulis. Tak perlu mahal, anda bisa kreasikan dari kertas tidak terpakai dan dihias semenarik mungkin. Lihat apa hasil tulisan anak anda?

2. Sediakan bahan/buku bacaan
Memperkaya kosakata tulisan bermula dari banyaknya bahan bacaan yang dibacanya. Setiap pagi, saya melihat kebiasaan ayah saya membaca koran. Saya juga suka melihat ibu membaca lembar-lembar buku rohani. Intinya, saya tidak pernah kehabisan ide untuk menulis karena banyaknya wawasan yang saya terima lewat membaca. Dengan membaca, saya sering terinspirasi untuk menuliskan hasil bacaan saya.

Setelah semakin banyak sekolah menggalakkan budaya baca maka budaya menulis juga menjadi trend tersendiri sebagai dampaknya. Di suatu sekolah, usai program baca siswa diminta untuk menuliskan pesan dari buku yang dibacanya. Hasilnya? Tulisan anak tentang buku yang dibacanya tersebut menjadi motivasi dan inspirasi anak lain untuk membaca. Jadi membaca adalah awal bagi seorang anak untuk menulis lebih banyak lagi.

3. Reviu dan apresiasi hasil tulisan
Setiap anak itu butuh pengakuan juga dari hasil tulisan yang sudah dibuatnya. Jangan menilai isi tulisan atau kesesuaian baku dengan tulisan anak! Sebaiknya reviu dilakukan agar anak terpacu untuk menulis lebih baik lagi. Pujilah anak jika ia berhasil menuliskan dengan baik. Dulu saya berhasil dapat tambahan uang saku dari ayah saya. Appresiasi juga datang dari guru di sekolah. Namanya anak-anak, hargai kejujuran mereka lewat tulisan mereka. Reviu bisa dilakukan terhadap kosakata-kosakata yang tidak baik atau tidak pantas. Dorong anak untuk selalu menulis hal positif.

4. Dorong anak ikut kompetisi menulis
Karena suka menulis berkembang terus hingga di kelas tinggi sekolah dasar, saya putuskan menulis saya lebih baik lagi. Saya jarang menulis buku diary, saya banyak menulis cerita pendek. Tulisan dalam buku tulis tersebut, saya tukar dengan cerita teman kelas yang juga gemar menulis. Menarik sekali. Saya juga suka didorong untuk ikut kompetisi menulis. Melalui kompetisi menulis, saya tidak melihat keinginan jadi juara tetapi saya dapat menyalurkan hobi menulis saya. Juara adalah bonusnya.

5. Budayakan komunikasi tertulis di rumah
Dalam penyampaian instruksi penggunaan perabotan rumah tangga, ayah saya menuliskan dan menempelkannya di dinding, misalnya cara menggunakan mesin cuci, dsb. Saya juga kadang mendapati ibu saya menuliskan pesan yang harus saya kerjakan dan meletakkannya pada tempat yang saya tahu. Beberapa kalimat positif juga sering ditempelkan ayah saya di sekitar dinding rumah. Tulisan tersebut adalah tulisan tangan ayah saya. Atau, jika saya diminta melaporkan pertanggungjawaban uang untuk berbelanja, ayah meminta saya menuliskannya sebagai laporan. Nah, hal sepele tertulis ini mendorong saya terbiasa menulis.

Semoga lima tips di atas menginspirasi anda melatih anak menulis. Ingat, menulis itu menyenangkan ya! Jangan paksa anak jika mereka tidak gemar menulis. Semua berawal dari bagaimana keluarga membangun budaya tulis menulis.

Selamat mencoba😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s