Gaji Belum Tentu Jaminan Kepuasan Bekerja


Jika anda mengeluh gaji anda kurang lalu jadi bermalas-malasan dalam bekerja, mungkin anda perlu gali lagi penyebabnya?

Begini ceritanya, saya punya seorang supervisor di masa lalu yang getol sekali bekerja. Hampir 24 jam dia bekerja, hapenya tak pernah off dan selalu merespon pertanyaan yang diajukan padanya. Dia orang yang penuh dedikasi dan berkomitmen dalam menyelesaikan pekerjaannya. Kerja keras dan kerja cerdas membuahkan hasil, proyek kami mendapatkan predikat terbaik berkat hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan. Supervisor saya ini tidak memiliki latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan posisi jabatan yang diembannya. Saya hampir tidak menyangka, dia belajar cepat sehingga membawa kami pada prestasi yang luar biasa.

Suatu saat, saya ngobrol dengan supervisor saya ini karena beliau membayar makan malam usai kami bekerja. Dia tak segan-segan mengapresiasi bawahannya jika berhasil melaksanakan suatu pekerjaan, seperti mengajak makan malam usai kerja atau pujian, dsb. Dari obrolan ini, dia mengatakan bahwa gajinya itu lebih rendah daripada saya. Ia berhak tahu berapa gaji saya saat di awal kontrak tetapi ia tidak menaruh rasa iri bahwa gajinya lebih rendah padahal ia bertugas memsupervisi. Lalu apa yang membuatnya bekerja giat waktu hingga berprestasi? Ini jawabannya, supervisor saya merasa nyaman dengan pekerjaan yang digelutinya. Jadi apa yang membuat kita kerasan, betah dan senang bekerja adalah ketika kita menikmati apa yang dikerjakan, bukan menikmati gaji pekerjaan.

Seberapa besar gaji yang anda terima tetapi anda tidak pernah menikmatinya, itu tak berguna. Menikmati pekerjaan bukan berarti bekerja tanpa kenal lelah, tetapi menikmati pekerjaan ketika anda tahu bahwa pekerjaan itu berguna bagi anda dan orang lain. Itu pesan yang saya ingat dari supervisor saya tersebut.

Saya ingat dulu sewaktu kuliah, bahwa ada riset yang menyatakan bahwa sumber kepuasan bekerja bukan ditentukan oleh gaji. Iseng saya buka, apakah studinya masih sama hasilnya. Dikatakan bahwa gaji yang lebih tinggi belum tentu menentukan kepuasan karyawan. Studi ini juga melihat faktor-faktor yang berkontribusi pada kepuasan karyawan saat bekerja.

Studi yang baru dirilis 2015 ini mengatakan bahwa di awal survey memang terlihat mereka yang bergaji tinggi memiliki kepuasan tinggi. Nyatanya, ini tidak linear dengan faktor-faktor kontrol diluar gaji seperti budaya dan nilai-nilai yang diemban yang menyangkut kesejahteraan. Perusahaan juga perlu memperhatikan kepuasan karyawan yang tergambar dari perhatian terhadap jenjang karir karyawan atau budaya positif yang dibangun perusahaan.

Agak ribet sudah lama tidak baca data-data statistik. Well, saya pikir kepuasan bekerja adalah kenyamanan batin di saat kita melakukan pekerjaan yang kita cintai. Jika kita terpaksa bekerja, hasilnya kita tidak pernah puas dan bahagia, yang ada kita mengeluh dan mengomel setiap saat di kantor.

Setialah pada pekerjaan kecil, maka engkau akan dipercaya pada pekerjaan besar.

Sumber bacaan: https://www.glassdoor.com/research/does-money-buy-happiness-the-link-between-salary-and-employee-satisfaction/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s