“Hello, December. You Are The Last One”


blog5  Angin dingin dan salju lebat turun saat itu, dia meninggalkanku sendiri. Entah apa yang ada di benaknya, aku seorang diri di negeri orang. Tak punya hati, bagaimana mungkin aku dibiarkannya menjalani ini semua.

Oh Tuhan, desahku. Biarkan ini yang terakhir untukku, pintaku.

Benar, kadang kita bisa mencintai tetapi belum tentu memiliki.

“Anna, I can’t. People come and go in your life but the right ones will always stay. I am not the right one, Anna” katanya dalam bahasa Inggris terbata-bata.

“Es tut mir leid. Wie bitte” sahutku memintanya mengulang kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya.

Dia menciumku dan pergi. Tanpa kata dan penjelasan, aku terpojok di sudut flatku sementara di luar salju begitu menusuk. Aku perbesar tekanan pemanas ruangan.

“Oh God, I am tired. Why it happened again?” teriakku dalam keheningan malam itu.

****

Matahari menyeruak masuk ke jendela flatku. Aku bisa merasakan hangatnya mentari meski salju menutupi pemandangan di seberang sana.

Suara dering telpon berbunyi. Aku sampai lupa dimana aku meletakkannya.

“Hallo” sahutku.

“Anna”

“Wer ist das?”

“It’s me, Anna. Look, I just make sure that you are fine now,”

“Alles gut in hier. Warum?”

“Oh sehr schön. One day you will find your soulmate. I am sorry. How do I say that I am not the last for you.”

****

Desember, kau adalah yang terakhir.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s