Mengapa Sulit Jadi Pendengar yang Baik?


Di suatu sore, seorang anak bertanya pada ibunya:

Anak : Ibu, mengapa kau selalu mendengarkan aku berbicara?

Ibu : Karena aku ingin tahu tentang keseharianmu dan apa saja yang kau lakukan, nak.

Anak : Mengapa temanku tidak suka mendengarkan aku bicara di kelas?

Ibu : Tentu, kau tidak boleh bicara saat dalam kelas. Kita tidak mungkin memahami dengan baik, jika ada dua orang bicara. Jadi jika kau ingin memahami pelajaran di kelas, jadilah pendengar yang baik.

Anak : Baik, Bu. Itu sudah sering aku lakukan hanya saja mengapa temanku itu tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan?

Ibu : Apa yang kau katakan pada temanmu?

Anak : Aku bilang Klara itu terlihat suka makan, lalu temanku ini mengatakan kepada Klara bahwa aku mengejeknya gendut. Oh ibu, aku tidak berkata demikian. Akhirnya Klara marah padaku.

Ibu : Kau sudah jelaskan pada Klara soal itu?

Anak : Aku sudah berusaha tetapi Klara tidak mau jadi pendengar yang baik seperti ibu.

Ibu : Kau tahu Nak, kunci agar orang mau mendengarkanmu adalah pilihlah apa yang ingin didengarnya.

Anak: Mungkin bu. Seperti yang disampaikan Maria padaku, Klara ingin aku minta maaf.

Ibu : Yups, awali kalimatmu saat mendekati Klara dengan kata ‘maaf’ dengan begitu kau sudah curi perhatiannya untuk diam dan mulai mendengarkanmu. Umumnya setiap orang mendengarkan apa yang dipilihnya untuk didengar. Tidak ada yang seratus persen orang benar-benar mengucapkan secara sempurna dan tepat apa yang baru didengarnya. Seperti yang kau katakan pada temanmu tentang Klara, suka makan tidak serta merta gemuk ‘kan?

Anak : Ya Bu

Ibu : Jadi jangan mudah percaya apa yang temanmu katakan yang berasal dari orang lain! Jika informasi itu belum benar namanya gosip. Karena mereka yang bergosip bisa menambahkan atau mengurangi fakta yang didengarnya. Ini juga alasan orang sukar jadi pendengar yang baik, nak.

Anak :  Baik bu, itu berarti ibu menjadi pendengar yang baik karena ibu percaya padaku ‘kan?

Ibu : Ya, kunci jadi pendengar yang baik adalah kepercayaan. Dengan begitu, jangan mudah menaruh kepercayaan dengan bercerita masalah pribadimu kepada orang lain! Sebaiknya jika ada masalah, ceritakan pada orang yang kamu percayai, Nak atau ke Tuhan dengan berdoa. Jangan suka mengumbarnya pada orang lain!

Anak : Baik Bu, karena pada dasarnya kita tidak mudah menjadi pendengar yang baik ya.

***

Kata orang itu sambil bercerita mengenang masa kecilnya. “Sekarang aku jadi begini bahwa aku adalah orang yang tidak suka mengumbar segalanya kepada orang lain atau media sosial. Segalanya diceritakan pada yang dipercayai atau kepada Tuhan,” katanya sambil matanya basah berlinang. Ia menyimpan perkaranya dalam hati.

Lalu ia menutup percakapan kami dengan berkata, “Jika yang kamu lihat masih persepsi, dilihat dari berbagai sudut pandang, dan apa yang kamu dengar bisa saja masih opini, mengapa mudah kau jadikan itu sebagai informasi. Kemajuan komunikasi dan informasi tidak serta merta kau terima sebagai kenyataan, pelajari dulu. Ada data baru bicara,” tegasnya. Ia pun berlalu.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s