Jangan Pernah Berhenti Bermimpi! – Hört niemals auf zu träumen!


“Sesuatu itu mungkin asalkan kamu kerja keras. Hört niemals auf zu träumen! Keep your dream ya!” katanya padaku saat aku menangis tidak terima kenyataan yang sedang terjadi.

Dia memberikan tisu dan melap tangisku yang membasahi pipi. Sebagai sahabat, ia tahu bahwa aku adalah pejuang mimpi yang tak pernah menyerah. “Hey, setiap impian itu butuh usaha, keringat, air mata, percobaan berkali-kali, kegagalan dan penolakan,” katanya sambil menggegam tanganku.

“Aku suka gayamu, Anna. Kau gigih memperjuangkan keyakinanmu. Kau begitu percaya diri.”

Aku berhenti menangis. Aku jarang mendengarnya memuji diriku.

Impian itu juga butuh keyakinan. Jika kau tak yakin pada diri sendiri, jangan pernah bermimpi!” katanya sembari menawari minum kopi yang dibuatkan untukku.

Aku menggeleng. Aku tak ingin minum saat dia memintaku minum kopi yang dituangnya.

“Banyak pejuang mimpi yang berhenti saat mereka merasa tidak sanggup menjalankannya. Padahal yang dibutuhkan mereka adalah iman dan keyakinan agar mereka tidak kelelahan lalu berhenti,” serunya sambil menyeruput kopi miliknya. “Teruslah bergerak selama bisa bernafas, Anna!!! Dengan begitu kau akan mendapatkan cara untuk menggapainya. Selalu ada bayaran bagi mereka yang sudah kerja keras,” katanya mantap.

Salju lebat sekali di luar. Aku memandang dari jendela dan mulai memikirkan untuk pulang. Aku lihat tak banyak orang lalu lalang pada jam delapan malam ini. Karyawan kafe juga bergegas menata perabotan milik mereka.

“Jangan pernah mengkhawatirkan hal yang belum terjadi!”

Sepertinya sahabatku ini tahu kegundahan perasaanku untuk pulang malam yang diiringi salju yang lebat. Yups, itu yang aku rasakan untuk menggapai impian, khawatir.

Jika saat ini tidak sesuai seperti rencanamu, bukan berarti kamu kalah. Memang kita tidak bisa mengendalikan keadaan dan situasi tetapi kita bisa mengontrol pikiran dan perasaan diri sendiri. Dengan begitu kamu belajar arti kesabaran, bukan kegagalan.”

Kalimat bijaksana meluncur deras dari mulut sahabatku, sederas salju yang turun malam itu.

Zalhlen, bitte!” teriak sahabatku meminta bon kepada pelayan kafe. Pria yang menyadari lambaian tangan sahabatku, mengangguk dan mengiyakan.

Pelayan tersebut datang dan membawa selembar bon. Dia berkata, “Bitteschön!”

Sahabatku mengeluarkan dua lembar uang 10 euro. Sambil merengkuh uang yang diberikannya, pelayan itu bertanya padaku tentang kopi yang tak diminum. “Entschuldigung, Ihr kaffe,” tanyanya.

Nein, Danke!” jawabku. Sahabatku menjelaskan dalam bahasa Jerman yang baik bahwa aku sedang tidak enak badan. Pelayan itu tersenyum padaku.

***

Mimpi adalah saat kita tahu apa yang diinginkan untuk terwujud.

Teruslah bermimpi karena dunia ini dibangun oleh orang-orang yang berhasil mewujudkan mimpinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s