Pengalaman Itu Mahal Harganya!


blog5Pagi itu, aku bertemu dengan seorang nenek tua di tepian desa. Dia sedang mengambil air di sumur tua milik desa. Sumur tua yang terletak jauh dari keramaian desa, sehingga setiap orang harus berjalan berkilo-kilo untuk menjangkaunya, termasuk nenek tua di sebelahku ini.

“Nenek saja duluan, silahkan!” kataku kepada nenek tua usai antrian jatuh padaku.

“Tidak, Nak. Kau saja duluan. Kau sudah datang lebih dulu,” sahutnya padaku.

“Nenek pasti lebih membutuhkan air dari pada saya, jadi biar lebih dulu. Saya bisa kemudian,” sahutku meyakinkan.

Dia pun menurut, dua jirigen air besar disiapkannya di sebelah pancuran sumur. Dengan tangannya yang renta dan mulai gemetar, ia meraih jirigen besar pertama. Dia mulai memastikan air bisa masuk ke dalam jirigen tersebut. Sambil menunggu air penuh, dia mengajakku berbicara.

Mulanya aku menghindar, aku yakin nenek ini akan bercerita tentang masa lalu yang jadi kejayaannya sama seperti orang-orang tua pada umumnya. Sindrom power, pikirku.

Makin lama aku menyimak kisah dari cerita yang dituturkannya, sembari menanti tetes demi tetes air. Entah mengapa saluran air berjalan tersendat bahkan untuk satu jirigen milik nenek saja bisa begitu lama penantiannya. Aku begitu gelisah menunggu.

“Nak, biarkan tetesan air mengalir. Alam selalu punya caranya sendiri untuk menguji kesabaran kita.”

Aku tertunduk malu dan diam. Aku ‘kan sudah mempersilahkan nenek ini lebih dulu, itu artinya aku sudah menerima konsekuensi apa pun, termasuk lebih lama menunggu giliran. Gumamku dalam hati.

Tiba-tiba nenek itu bertanya memecahkan kesunyian tetesan air yang kami tunggu. “Apa yang berharga dalam hidupmu, Nak?” tanya nenek. Aku bingung lantas menjawab, “Tidak tahu. Mengapa Nek?”

“Ketika aku muda, aku selalu berpikir hal yang berharga dalam hidup adalah harta. Aku bekerja siang malam agar memiliki banyak harta, namun aku tidak bahagia. Lalu aku merenung lagi. Aku sadar bahwa hal yang berharga dalam hidup adalah ilmu. Aku ambil lagi studi agar bisa meraih gelar yang tinggi hingga setiap orang hormat padaku, namun lagi-lagi aku tidak bahagia,” cerita nenek.

Aku jadi penasaran dengan ceritanya. Dengan sedikit menelisik aku dekatkan tubuhku agar menjadi jelas cerita akhirnya. “Lalu apa yang berharga sehingga membuat nenek bahagia?” tanyaku.

“Kau penasaran rupanya,” senyum nenek tua terukir di wajahnya. Aku membalas senyumnya kembali.

“Ketika aku sudah tua, aku baru sadar. Bahwa hal yang paling berharga adalah pengalaman. Pengalaman itu mahal harganya, hingga aku menyesal mengapa tidak sejak dulu aku mengalami bahwa hidup itu indah. Aku begitu sibuk  melewatkan keindahannya.”  Cerita nenek membuatku terhenyuk.

“Carilah pengalaman sebanyak-banyaknya, Nak!” serunya sambil mengambil jirigen kedua untuk diisi air. Kemudian katanya lagi “Mencari harta akan membuatmu berat melangkah di dunia ini tetapi mencari pengalaman akan selalu ringan dibawa.”

“Dunia ini adalah gudang ilmu. Belajarlah daripadanya bahkan dari alam sekalipun,” tegas nenek tua itu kepadaku.

Nenek tua memintaku menikmati setiap tetes air meski lambat jalannya. Ternyata ia benar, sembari menunggu tetesan air selalu ada pengalaman berharga yang aku dapatkan.

Apa sih yang dicari di dunia ini? Hal yang paling berharga pasti sudah pernah kita dapatkan dalam hidup, bukan emas berlian atau gelar yang tinggi tetapi mungkin saat kita sakit, tidak berdaya, dicampakkan, jatuh dan terpuruk. Setiap waktu begitu berharga, karena itulah pengalaman yang kelak akan diceritakan kepada anak cucu nantinya. Pengalaman begitu berharga karena tidak setiap orang mengalami hal yang sama seperti yang kita alami.

 

*Diceritakan dari seorang yang berbagi cerita ini dalam pesawat. Terimakasih inspirasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s