Mengapa Kita Tidak Kaya?


image
Sumber foto: Dokumen pribadi

“Mama, mama…” teriak Anna yang baru saja tiba di rumah sambil melepas sepatu. Ia segera bergegas melepas seragam sekolahnya di kamar dan menggantinya dengan kaos dan celana pendek khas anak umur 10 tahun.

“Eh anak mama sudah pulang,” sambut ibunya di dekat kamar Anna. Si ibu tampak sedang menyiapkan adonan kue dan mengolesi loyang cetakan kue dengan margarin. “Mama tadi di dapur, mengecek kue dalam oven. Jadi mama tidak dengar kau pulang dari sekolah,” kata ibu sambil meneruskan pekerjaannya membuat kue.

“Mama, mengapa kita tidak kaya ya?” tanya Anna di sela-sela suara mixer kue, pengaduk adonan. Si ibu langsung menghentikan mesin mixer dan mengelus rambut Anna. “Oh sayang, mengapa kau bertanya begitu?” tanya ibu kembali.

Anna segera membantu ibu mengambil lap basah dan memberikannya. “Ini mama” kata Anna. Ibu segera melap tangannya yang penuh dengan semburan tepung. Anna terlihat bersalah dengan pertanyaannya sementara ibunya membersihkan diri dalam kebingungan.

“Teman sebangkuku akan pergi keluar negeri bersama ayah dan ibunya. Lalu teman yang duduk di depanku mendapat tas baru yang bagus,” ujar Anna menjelaskan. “Mengapa mereka mudah mendapatkan apa yang diinginkan, mama? Karena mereka kaya ‘kan?” tanya Anna pada ibunya.

“Mereka kaya bisa membeli tas bagus. Mereka kaya jadi bisa jalan-jalan keluar negeri, sementara kita tidak kaya maka tidak bisa seperti mereka,” jelas Anna. Ibu serius mendengarkan Anna dan menghentikan pekerjaannya membuat kue.

Ibu tersenyum memahami maksud pertanyaan Anna. “Dengar sayang! Kita juga kaya kok. Yang membedakan kita dengan mereka adalah mereka mampu membeli keinginan mereka sementara kita membeli kebutuhan kita,” kata ibu. Lanjutnya, “Itu artinya mereka bisa membeli segala keinginannya, sedangkan kita membeli saat dibutuhkan. Sepatumu rusak tak terpakai, mama akan membeli sepatu baru. Mama belum mampu membeli melebihi kebutuhanmu, nak. Itu saja.”

Anna terdiam usai mendengarkan penjelasan ibu. Ibu lalu menghampirinya lebih dekat sambil mengelus rambut Anna yang sebahu. “Mulai sekarang belajarlah bukan untuk jadi kaya seperti yang kau maksud tetapi belajarlah jadi orang yang tak suka pamer dengan apa yang kau punya,” ujar ibu.

“Maafkan aku mama,” lirih Anna sambil memeluk ibunya. “Kaya atau miskin tidak ditentukan dari apa yang kau punya, tetapi apa yang kau rasa” kata ibu memeluk Anna kembali.

Samar-samar ibu berbisik di telinga Anna, “Dimana hatimu berada, disitulah hartamu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s