4 Hal yang Harus Dihindari Orangtua Saat Berkomunikasi dengan Remaja


remaja
Sumber foto: Dokumen pribadi

“Jadi orangtua itu serba salah!“ keluh seorang teman menuliskan email pada saya. Dia curhat bagaimana menghadapi anaknya semata wayang yang baru saja menginjak remaja. Saya berpikir juga tidak ada rumus yang baku untuk menghadapi remaja sepanjang anda benar-benar mengenal remaja tersebut, termasuk perkembangannya. Mengapa? Banyak orangtua komplen soal anak remajanya padahal mereka tidak tahu soal perkembangan mereka seperti perubahan-perubahan emosional yang mereka hadapi.

Perubahan emosi yang dihadapi remaja menyangkut segala hal yang dirasakan terhadap diri sendiri, teman sebaya, orang lain termasuk orangtua. Tentunya hal ini bisa membuat remaja bingung, sedih atau gembira bercampur jadi satu menghadapi perkembangan yang sedang dialaminya.

Berikut 4 hal yang harus dihindari orangtua saat berkomunikasi dengan remaja

  1. Lebih banyak berbicara ketimbang mendengarkan

Saat orangtua merasa diri paling benar dalam menghadapi persoalan remaja, maka kecenderungannya akan lebih banyak berbicara bla bla bla. Mengingat orangtua pernah mengalami masa remaja, nyatanya semua persoalan yang dihadapi orangtua saat remaja dulu dianggapnya sama dengan kondisi remaja sekarang. Sebaiknya hindari dominasi pembicaraan ketika anda punya kesempatan untuk berbicara dengan mereka. Dengan tidak mendominasi pembicaraan, anda berarti memberikan kesempatan untuknya bercerita dan berbagi.

 

  1. Merasa paling tahu, hebat, benar dan terbaik

Kecenderungan orangtua untuk merasa paling tahu, hebat dan benar sebaiknya perlu dihindari. Hindari segala nasihat-nasihat yang anda pikir terbaik untuk disampaikan. Nyatanya remaja perlu seseorang untuk memahami dan mendengarkan mereka, bukan orang yang hebat memberikan nasihat. Karena belum tentu anda benar-benar memahami kondisi yang sebenarnya dari remaja tersebut. Gunakan pendekatan sahabat terbaik seperti remaja memiliki tempat curhat.

 

  1. Marah, berteriak dan merasa putus asa

Bisa dipahami apa yang anda rasakan sebagai orangtua bilamana anda menghadapi remaja bermasalah. Namun tindakan memarahi dan berteriak-teriak pada remaja justru akan memperburuk keadaan. Kendalikan rasa marah dan putus asa saat berkomunikasi dengan remaja. Dengan demikian, anda akan memahami kondisi yang sebenarnya pada remaja dengan pendekatan yang lebih baik, bukan emosional. Mulailah komunikasi dengan pendekatan terbuka, hangat dan tidak emosional.

 

  1. Tidak bisa menerima kondisi yang sedang terjadi pada remaja

Apa pun masalah yang terjadi dengan remaja, terimalah kenyataan tersebut. Jika menyangkal terus menerus, justru komunikasi menjadi tidak efektif. Berikan pelukan saat anda menyadari bahwa remaja sedang menghadapi masalah. Saat anda bisa menerima kondisi mereka, dengarkan apa yang sedang terjadi pada remaja! Jangan menyalahkan kondisi yang sedang dihadapi oleh remaja. Libatkan remaja untuk mencari solusi bersama.

Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s