Begini Sebaiknya Berkomunikasi Jika Marah dengan Pasangan


Sumber foto: Dokumen pribadi

Namanya menikah, pastinya ada dua orang yang berbeda secara karakter termasuk faktor-faktor yang membentuknya seperti budaya, pola asuh dsb. Menemukan kesulitan dalam berkomunikasi dengan pasangan, itu hal yang wajar. Bagaimana jika anda marah yang santun dengan pasangan?

Ada dua cara menghadapi pasangan saat anda marah, (1). Emotional coping, kecenderungan yang lebih menekankan emosi. Misalnya menangis meraung-raung, banting barang, merusak barang atau berteriak-teriak. Saya paham, anda sedang marah tetapi apakah itu menyelesaikan masalah? Yang ada, masalah akan semakin runyam dan menarik perhatian banyak orang sekitar anda. 

(2). Problem coping, kecenderungan yang lebih memusatkan pada masalah yang terjadi. Cari waktu yang terbaik berdua untuk diskusi! Jangan libatkan pihak lain dulu, seperti anak, orangtua, dsb! Ajak bicara dari hati ke hati, toh dia adalah pasangan hidup anda. Jangan biarkan anda terprovokasi oleh masalah, biarkan anda bisa mengendalikan masalah!

 Anda perlu menghindari hal-hal berikut saat anda marah dengan pasangan.

Apa saja? Ini dia

1. Tidak mau mendengar, lebih banyak bicara

Pria dikatakan tidak suka mendengar. Saat saya tanya kepada para pria, mereka berkata perempuan lebih banyak berbicara bahkan mengatakan hal-hal tidak perlu, terlalu mengkhawatirkan hingga hal-hal tidak relevan. Jadi ini alasan para pria tidak mau mendengar. So, jika hendak berkomunikasi dengan pasangan, sebaiknya rumus pertama adalah mendengarkannya. Apa pun masalah yang dihadapi dengarkan dia dulu, bagaimana pendapat dan perasaannya. Beri kesempatan baginya untuk menanggapi, berkomentar dan mengklarifikasi. 

2. Merasa diri “paling”

Meski anda lebih hebat secara pendidikan atau pekerjaan dibandingkan pasangan hidup anda, namun menikah membuat anda sama dan setara. Jangan berpikir pula bahwa anda yang mencari nafkah sehingga anda lebih dominan dan powerful! Pandanglah pasangan anda sebagai pribadi yang pernah anda cintai dan kagumi saat anda menikah dulu! Terima dia apa adanya, meski dia salah dan anda benar. Jangan merasa ‘sok’ atas pasangan anda sendiri!

3. Mengungkit kesalahan masa lalu

Kecenderungan bila marah adalah melihat kesalahan yang sama di masa lampau. Berpikirlah past is past! Yang lalu sudah berlalu. Masalah anda saat ini tak akan selesai jika anda membahas masalah yang lalu. Masa lalu bukan masalah. Masalah anda adalah hanya tentang saat ini untuk nanti masa depan anda berdua.

4. Marah-marah, berteriak dan cenderung emosional 

Seberapa rumitnya masalah anda, tidak akan pernah selesai jika anda berteriak-teriak dan emosional. Kendalikan emosi anda, mengapa?Ini untuk kesehatan mental dan jantung anda juga. Jika anda marah-marah, jantung anda bekerja 4 kali lipat yang berarti berisiko dan membahayakan keselamatan anda. Masalah akan selesai pada wakunya, tetapi tidak dengan marah-marah.

5. Menuduh dan tidak percaya 

Di awal pernikahan, anda sudah memulai hubungan kepercayaan dengan pasangan anda.Tentu jika anda tidak mempercayainya, buat apa menikahinya? Saat sedang bermasalah, percayakan pasangan untuk bercerita, mengklarifikasi dan berpendapat. Jangan pernah mengkaitkan masalah anda berdasar sumber orang lain! Itu namanya menuduh dan tidak santun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s