Segala Sesuatu Ada Waktunya




Di suatu kisah diceritakan seorang perempuan yang setiap hari datang berdoa kepada Tuhan melalui doa Novena yang didoakan selama sembilan hari berturut-turut. Hanya satu pintanya, “Saya ingin Tuhan memberikan saya kupu-kupu yang indah pada bunga yang kupunya ini.”

Dengan tekun dia berdoa dan berharap kepada Tuhan dari hari pertama hingga seterusnya di hari ke sembilan. Kupu-kupu yang indah, yang ia harapkan agar menghiasi bunga di taman miliknya.

Datanglah perempuan itu ke Gereja untuk hari terakhir Misa Novena dengan penuh semangat. Ia yakin Tuhan menjawab doanya. Usai misa, ia segera mendapati bunga miliknya. “Kali ini, Kupu-kupu pasti muncul. Bukankah ini hari terakhir dari Novena?” serunya di taman.

Ia langsung terkejut ketika mendapati bukan kupu-kupu yang hinggap di bunganya melainkan ulat.

Ia marah besar. Ia protes pada Tuhan. Ia merusak bunga yang indah itu. Ia kesal. Ia frustrasi. Ia kecewa pada ujud doa yang dia ucapkan selama 9 hari berturut-turut. Ia menangis. Ia bertanya dalam hati, mengapa Tuhan memberikan ulat ketika ia meminta kupu-kupu. Ia membenci ulat.

Semalaman ia menangis. Ia meratapi bunga yang telah dirusaknya karena tak menemukan kupu-kupu. Apalah arti doa yang diucapkan pada Tuhan berturut-turut?, pikirnya.

Kemudian berangsur-angsur, perempuan itu melupakan bunga dan kupu-kupu itu.

Dua minggu sudah terlewati. Ia bermaksud ingin menata bunga-bunga di taman yang dirusaknya.

Luar biasa! Ia mendapati taman miliknya dipenuhi oleh kupu-kupu cantik yang terbang menghiasi bunga-bunga di taman itu. Rupanya ulat yang menyebalkan, menjijikkan dan tidak disukainya telah berubah menjadi kupu-kupu cantik seperti yang diimpikannya.

Kadang doa yang terjawab belum tentu seperti yang kita impikan. Kadang Tuhan memerlukan waktu untuk menjawab doa kita, menunda hingga saatnya tiba. 

Ia tahu bahwa kita perlu sabar menunggu saat yang tepat. Bukankah Tuhan itu baik? Ia memberikan apa yang kita butuhkan dengan cara dan waktuNya. Hal yang perlu kita lakukan adalah perubahan, merubah pikiran kita. Jika menjadi kupu-kupu, maka perlu berubah dari ulat dan melewati proses yang disebut metamorphosa sehingga menjadi kupu-kupu yang cantik, apalagi kita sebagai makhluk yang bernalar, yang semestinya mau juga berubah.

Bukan seberapa banyak kita berdoa, tetapi seberapa baik kita mengerti rencana Tuhan setelah berdoa. Doa itu bukan mantra sulap.

Segala sesuatu ada waktunya. Ketika waktunya tiba, akan indah kenyataannya. Ada saatnya kita harus menerima kenyataan sebagai jembatan meniti impian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s