Lupakan Apa yang Sudah Diberikan, Tetapi Ingatlah Apa yang Sudah Diterima


Apa anda pernah punya pengalaman mengenal orang yang suka mengungkit kebaikannya atau menceritakan segala yang sudah diberikan kepada orang lain? Tentu anda yang mendengarkannya akan risih dan tak nyaman. Apa sih enaknya mendengarkan seberapa banyak kebaikan yang sudah diberikan? Namun dalamnya hati seseorang tidak ada yang tahu.

Mengapa orang yang demikian suka melakukan, menceritakan sebanyak-banyaknya kebaikan dan hal-hal yang sudah diberikan kepada orang lain? Jika memang sudah diberikan kepada orang lain, ya sudah tetapi mengapa harus digembor-gemborkan?

Bisa saja mereka yang suka mengungkit kebaikan di masa lalu pada orang lain memerlukan pengakuan. Ohya? Pengakuan bisa bermacam-macam. Ingin diakui sebagai orang baik, misalnya. Ingin diakui bahwa dia orang yang berpunya ‘The have’ yang suka memberi kepada orang lain. Ingin diakui sebagai teman baik yang tidak pelit. Atau apa saja, intinya butuh pengakuan menjadi alasan mendasar bagi mereka yang suka mengungkit kebaikan atau pemberian kepada orang lain.

Apakah eksistensi diri hanya terlihat dari pemberian saja? Tentu tidak. Kebaikan seseorang tidak diukur dari seberapa banyak pemberian kepada orang lain. Jika kita memberi pun juga harus ikhlas dan rela, bukan untuk sebuah pengakuan. 

Belajar dari pertemuan saya dengan seorang opa atau kakek yang sudah sepuh. Ia mengalami demensia atau kita sering menyebutnya pikun. Di masa mudanya bisa jadi opa merupakan orang yang cukup bersahaja dengan terlihat banyaknya tanda jasa di rumahnya dan bunga segar kiriman orang di kamarnya. 

Sang anak bercerita bahwa suatu waktu ada orang yang datang mengunjungi opa dan berjanji akan membiayai seluruh pengobatan opa yang sakit. Pengunjung opa tersebut merasa terselamatkan alias bisa hidup karena jasa opa. Sementara opa yang dipertemukan dengan tamunya itu justru tidak mengenal tamu itu, meski sudah diberikan berbagai petunjuk. Mungkin penyakit demensia benar-benar membuatnya tidak bisa mengingat kejadian masa lampau.

Si anak dari opa yang senantiasa menemani opa mengatakan kalimat favorit opa yakni lupakan apa yang sudah diberikan kepada orang lain tetapi ingatlah apa yang sudah diterima padamu. Hidup akan terasa indah ketika bisa memberi kepada orang lain, tetapi tidak untuk sebuah pengakuan. Niscaya orang yang menerima kebaikan kita akan mengingat dengan baik siapa kita. Pastinya anda masih ingat hal-hal baik yang diterima orang lain, ya kan?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s