Mengamati Keunikan Traveler Asal Jepang


Jam 00:50 saya dan suami tiba di kota selanjutnya dengan bis yang melewati perbatasan antar negara. Penumpang bis memang tak banyak karena bukan musim liburan. Mereka segerombolan mahasiswa seperti penduduk setempat bersegera keluar dari bis. Sebenarnya suami saya tidak setuju kami pergi ke kota ini karena belum booking hotel, namun saya nekat daripada menunggu tidak jelas urusan pekerjaan, mending traveling ke negera tetangga.

Bis berhenti di terminal tengah malam. Yups, tinggal saya dan suami saja yang bingung mau kemana karena belum booking hotel dan tidak tahu tujuan. Di jok tengah tampak ada seorang terlihat dari Asia juga. Saya beranikan diri menyapa supaya kami bisa bersama-sama menuju hotelnya, jika dia sudah booking hotel. Rupanya dia juga belum booking hotel dan belum tukar uang lokal saat tengah malam begini. Dia adalah turis asal Jepang. Gubraks

Kisah bertemu dengan traveler Jepang memang belum selesai. Tetapi saya suka keberanian mereka menjelajah dunia meski seorang diri dan dengan kapasitas bahasa Inggris yang terbata-bata. Contoh kisah lain saya bertemu dengan traveler Jepang, bisa dilihat di sini.

Berikut hasil pengalaman bertemu dan mewawancarai mereka, para turis Jepang yang saya amati:

  • Turis yang santun 

Siapa pun mengakui bahwa turis Jepang adalah orang yang santun, apalagi bilamana mereka berada di negara orang. Mereka tidak berbicara teriak-teriak seperti turis lain. Malahan, mereka seperti irit berbicara. Sangking santunnya, pernah grup wisatawan termasuk saya memarahi sopir bis yang tidak mengantarkan kami ke tempat tujuan, semacam ingin menipu, tetapi turis Jepang tetap santun alias tidak marah-marah seperti yang lain. Salut sama kesantunan mereka karena saat tidur dalam dormitory perempuan pun, mereka tidak ingin membuat kegaduhan meski datang tengah malam. 

  • Introvert

Dalam urusan diskusi dan obrolan, orang Jepang suka membatasi diri. Mereka akan berbicara seperlunya. Ini yang membuat saya berpendapat mereka termasuk introvert. Jika saya suka bertanya dan membangun pertemanan atau sekedar bertukar kontak dengan turis yang lain, namun ini tidak jadi kebiasaan orang Jepang. Mereka juga tidak ingin menyinggung perasaan atau berbicara hal pribadi. Mereka berpendapat semestinya pada umumnya, bukan pendapat pribadi. Misalnya orang Jepang berkata “We think bla bla…Our culture bla bla..”  Artikel lain bisa dilihat di sini.

  • Tidak takut berpergian sendirian

Sebelumnya saya tidak berani traveling sendirian keluar negeri sampai akhirnya saya menjumpai beberapa turis Jepang yang jadi solo traveler. Baik perempuan maupun laki-laki, mereka percaya diri untuk jalan sendirian. Mereka berani untuk memulainya, jadi mengapa saya tidak?

  • Berpakaian unik dan punya ciri khas fesyen

Saya juga suka melihat gaya berpakaian mereka yang unik, terlihat berbeda dari kebanyakan turis pada umunya. Entah pakaian yang nyentrik, stoking bolong-bolong atau rambut yang dikuncir ajaib, berbeda pada umumnya. Mereka tampak stylish meski sedang traveling.

  • Kurang cakap dalam berbicara bahasa Inggris

Turis Jepang yang saya jumpai rerata tidak cakap berbicara bahasa Inggris. Mereka paham jika kita berbicara bahasa Inggris tetapi terkadang jawaban mereka tidak jelas karena artikulasi atau aksen bicara. Jika mereka menjawab atau bertanya, saya lihat ada yang menggunakan translate tools yang diperdengarkan. Mungkin ini pula jadi alasan mereka tidak ingin banyak ngobrol, entahlah. 

    • Gadget maniak

    Alasan untuk tidak merasa sendirian saat traveling menurut mereka adalah gadget di tangan. Mereka bisa mencari alamat, main games atau mendengarkan musik hingga menggunakan translate tools. Saat transaksi dengan sopir taksi, mereka tetap bisa berkomunikasi dengan gadget alias memanfaatkan kalkultor di dalamnya.

    • Tepat waktu

    Jika kita berpergian dalam rombongan grup, orang Jepang adalah orang yang tertib dan datang tepat waktu. Mereka bukan orang yang datang terlambat karena sibuk ambil foto atau memilih barang belanjaan. Mereka menghargai aturan yang sudah dibuat kepala rombongan misalnya.

    • Budaya antri

    Saat membuat antrian di imigrasi, para turis Jepang mampu buat antrian dengan tertib. Sementara turis Asia lainnya bisa serampangan mengambil jalur yang salah, memotong barisan atau tidak tertib sehingga membuat banyak turis lain marah-marah. Orang Jepang seperti terbiasa untuk tertib dalam antrian.

    Di atas adalah hasil pengamatan saya dan tidak untuk digeneralisasikan. Mungkin ada pengalaman yang lain, silahkan! Traveling membuka pemahaman saya bahwa setiap orang itu unik, tidak fanatik berlebihan dan menerima keragaman perbedaan satu sama lain.

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s