Jadilah Terbaik Untuk Diri Sendiri, Bukan Orang Lain! 


Sumber foto: Dokumen pribadi.

Aku pejamkan mata saat aku ingat peristiwa itu. Oh Tuhan, aku sudah melakukan segalanya dengan sempurna. Apa yang kurang? Rintihku dalam hati. Tak terasa air mata menetes di pipi. Aku hapus air mata dengan kedua tanganku saat ibu menghampiriku. 

“Ada apa sayang?” tanya ibuku sambil membawa secangkir teh. Seperti biasa aku mampir sebentar di rumah ibu. Aku jenuh bekerja. Aku curi waktu kantor dan memanggil taksi ke rumah orangtuaku. Aku pikir ini cara terbaik untuk mengistirahatkan batin dan pikiranku. Aku lelah batin. 

“Tidak ada bu,” jawabku. “Aku hanya banyak pikiran akhir-akhir ini. Ibu tahu aku dapat posisi jabatan yang baru. Belum lagi masalah dengan suamiku di rumah. Dia terlalu banyak menuntut. Lalu anakku semata wayang ingin agar aku berhenti bekerja,”  keluhku pada ibu. “Aku lelah bu mengikuti semua” ceritaku lagi sambil memijit pangkal hidungku, saat aku mengernyitkan keningku. 

Apa bisa kita menampung semua masalah ini hanya seorang diri? Aku rasa tidak. Oleh karena itu aku datang dan berbagi cerita pada ibu. Aku juga rindu teh buatan ibu. Menurutku teh buatan ibu yang terbaik. Setelah aku bercerita, minum teh lalu dipeluk ibu maka aku akan merasa lebih baik. 

“Minumlah tehmu! Jika dingin, rasanya tak enak” kata ibu sambil menyodorkan secangkir teh padaku. 

Aku meminumnya seteguk. Ibu bertanya “Bagaimana rasanya?” 

“Ini akan selalu jadi teh terbaik di seluruh dunia bu,” seruku. Aku pun menuangkan pot teh dan meminum lagi lebih banyak. Rasanya nikmat sekali. 

“Aku membuatkan teh tanpa berpikir ini akan jadi teh yang terbaik untukmu, nak. Namun aku berusaha menyajikan teh ini dengan cara terbaik agar kau suka saat merasakannya.” Kalimat ibu meluncur bijaknya. 

Aku mengangguk. Kataku, “Nah itu, bagaimana menjadi yang terbaik dalam hidup. Aku sudah berusaha jadi yang terbaik buat atasanku sehingga aku dapat promosi pekerjaan. Aku sudah berusaha jadi ibu yang terbaik untuk anakku sehingga ia ingin aku tinggal bersamanya dan tidak bekerja. Aku juga sudah berusaha jadi isteri yang terbaik sehingga segala kebutuhan suamiku terpenuhi.” Aku menarik napas panjang. “Apa yang aku dapat dari menjadi yang terbaik untuk orang lain?” tanyaku pada ibu hingga air mataku menetes lagi. 

Ibu memberiku tisu. Aku hapus air mata yang menetes. 

“Itulah sebab kau akan selalu merasa lelah. Mengapa? Karena selalu berusaha jadi yang terbaik untuk orang lain, bukan untuk dirimu sendiri. Kau tidak menikmati hidupmu sesungguhnya. kau tidak menikmati peranmu sebagai ibu, isteri dan karyawan. Kau mengerti itu sayang?” tanya ibu. 

Aku mengangguk. Yup, aku hanya memenuhi ambisi orang lain jadi yang terbaik tanpa pernah memikirkan apakah aku bahagia menjalani ini semua. 

“Jangan pernah berusaha jadi yang terbaik untuk orang lain! Jadilah diri sendiri sudah cukup yang terbaik dalam hidup ini!” seru ibu. Ibu lalu menjelaskan bahwa menjadi yang terbaik tidak akan pernah terpuaskan. Melakukan dengan cara terbaik adalah cara mujarab untuk menyempurnakan hidup di dunia ini. 

“Tiada teh terbaik di dunia tanpa pernah kau membuat dengan cara terbaik dan merasakannya. Begitu pun hidup ini, nak. Rasakan bagaimana kau sudah melakukan cara terbaik untuk semua itu,” kata ibu lagi. 

Jadi menjalani hidup yang terbaik adalah menjadi diri sendiri.

“Bahagia itu saat kamu tahu bahwa kamu sudah jadi yang terbaik untuk diri sendiri” tegas ibu sambil menarikku dalam pelukannya. 

Ibu benar. 

Dipeluk ibu membuatku nyaman sesaat dan damai. Adakah ibu terbaik di dunia ini tanpa pernah melakukan cara terbaik dan merasakan kasihnya? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s