Buat Apa Pintar Jika Tidak Bijak?


“Buat apa jadi pintar hanya untuk mengusai dunia nak?” pesan ibu lewat whatsapp sore ini. 

Aku ingin pintar ibu. Aku lebih memilih jadi wanita pintar ketimbang wanita cantik. Aku ingin ibu tahu bahwa kepandaian akan menguasai dunia. Mereka yang menguasai dunia adalah mereka yang pintar.

Itu alasanku. Aku ketik berbagai alasan untuk meyakinkan ibu bahwa aku ingin jadi wanita pintar. 

“Pintar itu perlu. Tapi buat apa menguasai dunia jika kita tak bisa menguasai diri sendiri?” tanya ibu kembali. 

Pesan pertanyaan yang menohokku. Yup, siapa pun bisa menguasai dunia tetapi belum tentu bisa menguasai diri sendiri. 

Lalu aku bertanya balik ke ibu, “aku harus bagaimana ibu?”

Menaklukkan dunia itu memang hebat tetapi lebih hebat jika ia bisa menaklukkan diri sendiri. Buat apa pintar jika ia tidak bijak?

Banyak orang berusaha menguasai dunia tetapi tidak mengenal dirinya sendiri. Dia seolah-olah ingin dunia mengenalnya, tetapi apakah dia sudah mengenal dirinya sendiri? Belum tentu. 

Belajar menguasai diri sendiri agar kita sadar bahwa jika kita pandai dan punya ilmu sesungguhnya kita tak perlu sombong. Bahkan sesungguhnya mereka yang berilmu tinggi tiada artinya apa-apa. 

Mereka yang berilmu tahap pertama bisa sombong. Mereka yang berilmu di tahap kedua bersikap rendah hati. Padahal mereka yang sudah berilmu di tahap ketiga, mereka merasa diri tidak ada artinya lagi. Ingat bahwa di atas langit masih ada langit. Setinggi apa pun ilmu yang dimiliki untuk menaklukkan dunia, pertama-tama kuasai dulu diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s