Buat Apa Pintar Jika Tidak Bijak?


"Buat apa jadi pintar hanya untuk mengusai dunia nak?" pesan ibu lewat whatsapp sore ini.  Aku ingin pintar ibu. Aku lebih memilih jadi wanita pintar ketimbang wanita cantik. Aku ingin ibu tahu bahwa kepandaian akan menguasai dunia. Mereka yang menguasai dunia adalah mereka yang pintar. Itu alasanku. Aku ketik berbagai alasan untuk meyakinkan ibu bahwa … Continue reading Buat Apa Pintar Jika Tidak Bijak?

Jadi Baik Sudah Cukup


"Memang penting menjadi yang terbaik dalam apa pun, nak" kata ibuku di sela-sela pembicaraan lewat telpon sore itu. "Namun kebanyakan orang lupa saat menjadi terbaik, mereka bukan orang yang baik," lanjut ibu.  Iya juga sih. Aku mengamini ucapan ibu sore itu. Sore waktu Jerman, malam waktu Indonesia. Beda lima jam jika musim panas seperti sekarang … Continue reading Jadi Baik Sudah Cukup

Kebijaksanaan Cinta


(Semacam gembok cinta di pinggiran Austria. Sumber foto: Dokumen pribadi) Ketika aku masih remaja, saat mengenal cinta pertama kali, pria idaman bagiku adalah dia yang pandai di sekolah. Sayangnya, aku tidak mendapatkannya. Mungkin karena aku juga tidak terlalu pintar. Beranjak dewasa muda, ketika aku memasuki dunia perkuliahan, pria idamanku pun berubah. Dia adalah pria yang … Continue reading Kebijaksanaan Cinta

“Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalumu Karena Kau Pemilik Masa Depan”


*Fiksi* Aku berdiri di tepi pelabuhan, memandang ferry yang berbayar menjauh menuju seberang. Entah berapa lama sudah aku tak pulang kampung. Aku rindu rumah. Aku rindu bau sawah. Aku rindu rasa embun di pagi hari. Aku rindu bersedekap merasakan hawa sejuk pegunungan. Ibu benar, aku tak cocok tinggal di tepi pantai.  Sejak pindah dari wilayah … Continue reading “Tidak Ada yang Bisa Menghakimi Masa Lalumu Karena Kau Pemilik Masa Depan”

Cinta dalam Sepotong Pizza


"Was denkst du, Anna?" tanyanya. Apa yang kau pikirkan.  Aku mendengarnya jadi terkejut. Aku tak percaya bahwa pria ini mengajak makan malam keluar. Oh, sulit rasanya membujuk pria Jerman ini makan di luar. Dia memilih masak dan makan di rumah, ketimbang makan di restoran.  Aku gugup menjawabnya "Nicht". Tidak ada yang aku pikirkan. Aku pun … Continue reading Cinta dalam Sepotong Pizza