Menikmati Perjalanan Hidup


image

(Sumber foto: Dokumen pribadi)

Alkisah ada dua orang murid berkelana menuju perguruan untuk bertemu Guru sejati. Mereka memulai perjalanan langkah demi langkah, bulan demi bulan, mengarungi lembah dan bukit. Mereka berdua diminta untuk melakukan perenungan selama perjalanan yang mereka tempuh, tak boleh banyak bicara dan memanfaatkan perbekalan seadanya. Mereka hanya berjalan layaknya peziarah hendak bertemu Sang Guru yang letaknya cukup jauh.

Hingga di hari ketiga puluh tiga, tibalah mereka di perguruan yang dituju, di atas bukit. Murid pertama langsung sujud tersungkur di hadapan Gurunya, mulai mengeluh kelelahan mendaki bukit. Ia pun tak sabar berlari mendapati Guru ketimbang murid kedua. Murid kedua tak banyak bicara langsung menyalami Guru dan diam terduduk di pojok kediaman Sang Guru.

Lalu Guru pun menyambut sukacita kedua murid dengan mempersilahkan mereka untuk bercerita pengalaman perjalanan mereka. Guru hanya duduk mendengarkan.

Murid pertama bertanya di awal, mengapa mereka harus berjalan kaki menempuh waktu begitu lama? Bukankah sudah ada kendaraan seperti kuda untuk tiba sampai ke perguruan itu.

Murid kedua hendak bercerita namun Murid pertama langsung memotong dan berkata, “Perjalanan menuju kemari begitu membosankan. Lelah dan capek. Saya harus melewati lembah dan bukit. Tak ada yang menarik dari sebuah perjalanan panjang yang tak berakhir. Saya hampir putus asa karena belum sampai juga. Saya kecewa karena saya tidak mendapati pertolongan sepanjang jalan untuk menuju ke perguruan ini.”

Kemudian Guru meminta Murid Kedua bercerita pengalamannya.

“Dalam perjalanan menuju perguruan ini, saya mendapati pemandangan yang indah dan orang-orang yang mau menolong. Saya mengamati bahwa di sepanjang jalan terdapat papan petunjuk menuju perguruan ini juga. Saya menikmati langkah demi langkah dari berbagai tumbuhan dan hewan yang saya jumpai. Tak terasa saya sudah sampai perguruan ini berjumpa dengan Guru.”

Guru pun tersenyum mendengarkan kisah pengalaman satu demi satu kedua muridnya.

Dalam hidup terkadang kita begitu ingin cepat sampai menuju tujuan perjalanan hidup. Kita menjadi tak sabar, sama seperti pertanyaan murid pertama, mengapa mereka harus berjalan kaki berlama-lama, bukan dengan kereta atau kuda. Kita begitu mudah menghalalkan segala cara untuk bisa sampai, padahal menjalani dengan tekun perlahan-lahan akan memberikan keindahan batin yang luar biasa. Segala sesuatu yang ditekuni, dampaknya akan lebih bermanfaat ketimbang mendapatkannya dengan cara yang tak halal dan instan.

Kedua murid menggambarkan perangai optimis dan pesimis yang mewakili pribadi kita. Mereka yang pesimis selalu mengeluhkan segala sesuatu. Mereka tak mendapatkan keindahan perjalanan, hanya rasa bosan, lelah dan capek tiada henti. Mengapa begitu? Karena mereka berfokus pada tujuan perguruan, bukan benar-benar menikmati perjalanan. Bukankah tujuan dari perjalanan hidup ini adalah menikmatinya? Jika kita begitu lelah, capek dan bosan, itu karena kita berfokus pada tujuan. Ada banyak tujuan hidup seperti ingin kaya, ingin bahagia, ingin punya banyak uang, ingin begini, ingin begitu dsb. Kita akhirnya lupa bahwa hidup ini indah sehingga kita tidak benar-benar menikmati perjalanannya.

Mereka yang optimis selalu melihat peluang dan petunjuk orang lain sebagai jalan menuju tujuan. Sementara mereka yang pesimis jarang atau tak pernah mengakui kehadiran orang lain dalam hidup mereka. Mereka yang pesimis terlalu disibukkan dengan perasaan mereka sendiri hingga lupa perasaan orang lain. Padahal dalam perjalanan hidup, orang lain hadir karena sebuah alasan dan petunjuk. Mereka yang pesimis kurang menaruh apresiasi terhadap orang lain.

Bagaimana agar bisa menikmati perjalanan hidup? Bersyukurlah dan optimis. Mereka yang bersyukur tahu bagaimana menikmati setiap langkah dengan antusias. Mereka yang optimis tahu bahwa tidak ada perjalanan yang membosankan, mereka mampu mengolah perasaan lelah dan capek menjadi sukacita. Bukankah kita tak pernah sendirian dalam menikmati perjalanan hidup? Sejak lahir, telah banyak orang hadir dalam hidup kita. Artinya, kita tak pernah sendirian menjalani kehidupan ini. Jadi nikmati itu sebagai berkah, bukan rasa lelah atau masalah.

Nikmati perjalanan dengan kesabaran, bukan ketergesaan untuk segera tiba pada tujuan. Jalan itu tak pernah mulus, lurus tetapi berkelok-kelok, mendaki, menurun, penuh rintangan dan hambatan. Jika jatuh, tersandung, terperosok adalah bagian dari perjalanan. Jika terluka, segera obati bukan larut dalam kedukaan. Dengan demikan kita belajar benar-benar perjalanan hidup. Jadikan setiap orang dalam hidup sebagai petunjuk menuju tujuan perjalanan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s